Secuil Realitas Masyarakat Disekitar Kita

Terkadang kita menjumpai di dalam masyarakat banyak hal yang aneh,terkadang ada hal yang membuat kita tertawa dan juga mengundang keprihatinan. Beberapa dari hal itu terjadi karena adanya kebiasaan dan menjadi suatu adat kebiasaan, mungkin juga karena faktor geografis tingkat pendidikan serta stimulus dari penguasa/pemerintah.

Saya sendiri melihat ada suatu masyarakat yang menjungjung tinggi arti sebuah papan (Rumah) sehingga mereka rela makan seadanya asal bisa memiliki rumah yang mewah menurut ukuran di lingkungannya, entah karena keyakinan atau memang harga diri dan martabat yang mendorong mereka untuk memiliki rumah yang melebihi arti dari kebutuhan minimal sebuah rumah dan mengorbankan banyak hal lain, diantaranya bidang kesehatan meraka enggan untuk mengeluarkan uang dan cenderung untuk memilih pengobatan gratis yang di adakan pemerintah dan terkadang mereka jadi manja hanya mengharap program pemerintah yang serba gratis bahkan untuk sekecil apapun dan sedarurat apaun,pameo “lebih baik mati daripada menjual/kehilangan harta kekayaan”,  pun cukup untuk menggambarkan situasi ini

Kita juga sering melihat banyak orang kurang mampu dan sering mengeluh tidak punya uang untuk kesehatan dan pendidikan tetapi gaya hidupnya penuh dengan kemewahan untuk seorang yang bilang tidak punya uang seperti mencicil sepeda motor bukan untuk menunjang ekonomi dan memiliki rumah dengan perabotan pendukung seperti lemari Es dan Tv ukuran besar, penampilan pun dengan baju yang jauh dari kesan jelek dan murahan dan laki-lakinya merokok dan menggunakan sepeda motor bukan untuk mencari nafkah.

Tetapi kita di buat terkaget-kaget ketika mereka mereka tiba-tiba dengan bangga menggelar hajatan dengan sangat ramai hidangan dan hiburan seperti layaknya pejabat tinggi,bahkan rela berhutang demi acara tersebut dan harga diri, di masyarakat yang guyub dan masih menaruh klan/trah sebagai hal utama memang susah mengubahnya tanpa di pelopori oleh tokoh masyarakat. Tapi setidaknya harus ada perubahan apalagi menyangkut Keuangan dan harga diri, karena bagaimanapun kesejahteraan bukan tercermin dari megah dan wah nya acara hajatan tapi juga banyak hal lain yang memerlukan jadi tolak ukur diantaranya kemandirian masyarakat dalam mengelola penghasilan dan hidup bermasyarakat yang selaras antara hak dan kewajiban dan antara kebutuhan kebutuhan primer, sekunder dan tersier.