Keterbelakangan Mental dan Keterbatasan Kognitif

Anak Berkebutuhan Khusus

Anak Berkebutuhan Khusus

Diagnosa  Keterbelakangan mental biasanya diberikan bila anak memiliki kelambatan atau keterbatasan kognitif yang lebih dari dua simpangan baku (standard deviation) dibawah rata-rata, dengan kata lain nilai tes IQ baku 75 ke bawah. Secara tradisional,anak-anak dengan keterbelakngan mental dianggap memiliki kelambatan dalam berbagai bidang yang luas, yaitu kelambatan dalam bahasa, kognisi, kemampuan motorik,pemrosesan auditori dan pemrosesan persepsi ruang secara merata. Penelitian terhadap sejumlah anak mendapat diagnosa keterbelakngan mental ; profil individual mereka mencakup kelemahan dan kekuatan dalam pemrosesan auditori, pemrosesan persepsi ruang, tonus otot dan perencanaan motorik.
Penelitian juga menemukan bahwa suatu keterbatasan seringkali menghambat bidang lain untuk berkembang semestinya. Kadang-kadang gangguan motorik yang berat, menutupi kemampuan yang lebih besar dalam beberapa bidang lainnya. Misalnya anak yang hanya menggerakkkan lidahnya, diyakini mengalami kelambatan kognitif berat dan tidak mampu berkomunikasi sama sekali. Sekalinya mengajari menggunakan lidahnya untuk mengatakan ya dan tidak, kami menemukan potensi yang lebih besar untuk berkonikasi dua arah yang bertujuan. Dalam waktu yang cukup singkat, ia menggunakanlidahnya untuk menunjukan keinginan dan maksudnya, suatu kemampuan yang sebelumnya diasumsikan  oleh para klinisi berada diluar jangkauan kapasitasnya. Bahkan, masalahnya perencanaan dan pengurutan motorik  yang samar-samar, bisa mengurangi kemampuan anak berkomunikasi (Misalnya melakukan pengurutan  gerak isyarat) dan dengan demikian akan mengarah pada penurunan dalam jenis-jenis interaksi yang mungkin menyuburkan perkembangan intelektual maupun emosional.
Anak-anak yang tonus ototnya lemah atau mengalami masalah berat dalam perencanaan motorik, sering tidak bisa berperan serta dengan baik dalam pengujian/tes formal. Yang bisa menghasilkan gambaran yang tidak akurat mengenai potensi  kognitif mereka. Kemampuan mereka mungkin terlihat rendah secara merata padahal kenyataan lebih bervariasi.
Semua ini tidak berarti bahwa semua anak yang mendapat diagnosa keterbelakangan mental memiliki potensi besar, melainkan sebagian dari mereka  demikian, dan banyak diantaranya memiliki potensi besar yang belum berkembang. Tantangan bagi kita adalah untuk memperhatikan kekuatan dan kelemahan unik setaiap anak, karena selama kita yakin bahwa keterampilan-keterampilan seorang anak adalah seragam, kita meniadakan kesempatan baginya untu berkembang secar maksimal
Sumber buku The Child with Special Needs Anak Berkebutuhan Khusus